Di era konsentrasi kepemilikan media serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, persaingan bisnis dirasakan semakin ketat baik dari pihak korporasi ataupun perusahaan media yang menaunginya. Menghadapi persoalan tersebut, seorang jurnalis dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan di luar dasar-dasar jurnalisme. Calon jurnalis khususnya, harus paham bahwa bekerja di media saat ini tentunya berarti memasuki dunia korporasi besar bahkan mega korporasi yang tidak pernah luput dari rantai bisnis.
Strategi manajerial dan marketing dibutuhkan agar perusahaan media bisa hidup serta menopang kelangsungan bisnis korporasi yang di-handlenya, misalnya saja melalui profit dari iklan. Hal tersebut disampaikan lebih lanjut oleh Kepala Perwakilan Bali, Bisnis Indonesia Aikhirul Anwar, SE yang diundang sebagai pembicara dalam diskusi matakuliah Manajemen Media oleh Kurnia Arofah, M.Si sebagai dosen pengampu.
Pria yang pernah berkecimpung dalam bidang kewartawanan di Harian Jogja dan Bisnis Indonesia itu berbagi pandangannya mengenai iklan pada media cetak. Menurutnya, pada era digital ini, korporasi memang lebih dominan untuk berinvestasi iklan di media online. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bagi media cetak untuk mendapatkan iklan. Maka dari itu, media berusaha menjaga kontinuitas iklan dengan mengadakan program-program, seperti laporan khusus Kompas: ‘Ekspedisi Cincin Api’ yang membutuhkan banyak sponsor dari korporasi. “Dari situ lah, koran mendapatkan revenue,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa untuk saat ini, klien Bisnis Indonesia kebanyakan masih dari hotel-hotel bintang empat sampai lima yang ingin memasang iklannya baik di koran ataupun online.
Kurnia Arofah berharap dengan mengundang dosen tamu dalam perkuliahan, dapat memberikan perspektif lain kepada mahasiswa mengenai dunia industri media di Indonesia yang langsung dari praktisi di bidangnya. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pengetahuan yang berbeda dari perkuliahan dengan dosen yang mengampu tiap minggunya.