(15/10/2014)
Yogyakarta- Pesatnya perkembangan industri media membuka peluang bagi para lulusan komunikasi untuk menjadi bagian di dalamnya. Menjadi jurnalis atau pekerja media lainnya merupakan pintu untuk pengalaman-pengalaman selanjutnya yang lebih menantang dan berharga.
Itulah kesan yang mengemuka saat wartawan senior Kompas Trias Kuncahyono membeberkan pengalaman liputan di Israel dan Palestina dalam Seminar ‘Buka Mata Mari Bekerja di Media’. Ia menjadi saksi konflik yang tak kunjung padam. Bom dan tembakan menjadi pemandangan sehari-hari. Berbagai detail catatan itu yang kemudian ia tuangkan dalam setiap reportase di Kompas khususnya halaman internasional. Wakil Pemimpin Redaksi Kompas ini juga menyoroti keberadaan pers mahasiswa yang seharusnya bisa mengeksplorasi banyak hal terkait institusi pendidikannya. “Banyak sekali peristiwa di kampus yang bisa ditulis. Pers kampus juga harus memiliki identitas atau karakter tanpa perlu takut dianggap radikal,” papar wartawan yang berkali-kali liputan di Bosnia, Tel Aviv dan Moskow tersebut. Trias juga mengatakan bahwa pers kampus bisa menjadi batu loncatan bagi mahasiswa sebelum menulis di media nasional.
Ratusan mahasiswa yang memenuhi ruang seminar FISIP Kampus II UPN “Veteran” Yogyakarta, Babarsari (15/10) tampak antusias bertanya khususnya terkait bagaimana menumbuhkan dan memupuk semangat menulis. Redaktur Harian Kedaulatan Rakyat, Esti Susilarti mengatakan bahwa menulis bukanlah sebuah keterampilan yang sulit dipelajari. Menuangkan ide dan serangkaian fakta peristiwa sangat bisa diasah jika kita sering melatihnya. “Jangan pernah menyerah jika tulisan kita ditolak oleh redaksi. Teruslah menulis karena sejatinya menjadi jurnalis atau penulis berarti memberikan inspirasi kepada sesama,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif SPS (Serikat Perusahaan Pers) Asmono Wikan memaparkan bahwa acara SPS Goes to Campus digelar untuk mendekatkan industri media kepada mahasiswa. Mantan aktivis pers mahasiswa ini mengatakan bahwa mindset masyarakat terkait pekerja media sudah jauh berubah. Jika dulu wartawan dinilai sebagai profesi yang tidak menjanjikan, kini opini masyarakat sudah bergeser. “Pekerja media juga bisa mendapatkan penghasilan yang besar sehingga semakin banyak orang ingin menjadi wartawan. Hal ini tentu saja sangat menarik karena industri media di Indonesia masih terus tumbuh,” jelas alumni Komunikasi Undip tersebut.
Senada dengan Asmono, Kaprodi Ilmu Komunikasi Subhan Afifi menyambut baik setiap kegiatan yang mempertemukan praktisi dengan kalangan akademisi. “Kegiatan seperti ini menjadi agenda rutin prodi karena keberadaan prodi memang salah satunya untuk memenuhi kebutuhan industri komunikasi,” tuturnya. Kedepannya prodi masih akan sibuk dengan agenda kerjasama nasional dan internasional yang melibatkan dosen dan mahasiswa.
Acara SPS Goes to Campus kerjasama Prodi Ilmu Komunikasi dan SPS ini ditutup dengan workshop ‘Pahami Jurnalistik, Kelola Persma Lebih Baik’ bersama Redaktur Swara Kampus Agung Wibawanto.